Pembinaan PTA Makassar Tiada Tempat Tersembunyi Dari Allah SWT
Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Makassar menggelar kegiatan pembinaan mental (Bintal) dan pembinaan umum bagi seluruh aparatur pada Senin, 20 Juli 2026, bertempat di Aula PTA Makassar. Kegiatan pembinaan dipimpin oleh Ketua PTA Makassar, didampingi oleh Wakil Ketua PTA Makassar, diikui oleh para Hakim Tinggi, Panitera dan Sekretaris PTA Makassar, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh aparatur PTA Makassar.

Ketua PTA Makassar, Dr. Drs. H. Khaeril R., M.H., dalam pembinaannya menyampaikan sejumlah hal terkait kebijakan dan evaluasi kinerja di lingkungan kepaniteraan dan kesekretariatan PTA Makassar. Beliau juga menegaskan bahwa hasil pengawasan akan menjadi patokan utama bagi pimpinan dalam menetapkan kebijakan, dan hal-hal yang ditemukan belum sempurna dalam pengawasan harus dijadikan bahan perbaikan ke depan. Beliau mengingatkan agar aparatur tidak hanya berpatokan pada bukti administratif semata dalam pengawasan. Ketua PTA Makassar meminta agar pelaksanaan pengawasan dapat segera dilaksanakan dan berharap agar pengawasan oleh para Hakim Tinggi dapat dilaksanakan secara seragam.
Sehubungan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Mahkamah Agung RI, Ketua PTA Makassar mengingatkan seluruh aparatur agar kegiatan-kegiatan kemeriahan yang dilaksanakan tidak sampai mengganggu pelaksanaan tugas dan aktivitas perkantoran.
Ketua PTA Makassar juga meminta agar segera mempersiapkan berbagai hal untuk pelaksanaan wiuda bagi hakim tinggi yang memasuki masa purnabakti, pelantikan dan pengantar alih tugas bagi pegawai yang mutasi.

Selain pembinaan Ketua, diselenggarakan pula pembinaan mental Hakim, Drs. H. Syahidal, M.H. dalam tausiahnya, beliau mengajak seluruh aparatur PTA Makassar untuk merenungi keagungan sifat-sifat Allah Swt., sebagaimana termaktub dalam Asmaul Husna, khususnya sifat Maha Mendengar (As-Sami') dan Maha Melihat (Al-Bashir). Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang benar-benar mampu mendengar dan melihat secara sempurna kecuali Allah Swt.

Menurutnya, kesadaran akan sifat-sifat Allah tersebut sepatutnya menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam bertindak, sebab pada hakikatnya tidak ada tempat bersembunyi dari pengawasan Allah Swt. Ia turut mengaitkan makna tersebut dengan semangat keesaan (Wahid) Allah Swt., serta menekankan pentingnya sikap tawakal kepada Allah Yang Maha Hidup (Al-Hayyu), rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, dan introspeksi diri (muhasabah) apabila menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan tugas. Hakim Tinggi Syahidal menutup tausiahnya dengan pesan bahwa ketabahan dalam menghadapi ujian hidup merupakan bagian dari iman dan nikmat yang harus disyukuri.
